Sabtu, 09 Januari 2016

Pengelolaan Dampak Industri

 
Pengelolaan Dampak Industri (Tugas 1)
20.50 WIB
AKTIVITAS PERINDUSTRIAN & PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI
     Aktivitas industri adalah suatu kegiatan ekonomi yang bersifat produktif atau menghasilkan suatu keuntungan. Dalam arti sempit industri adalah suatu kegiatan untuk mengelola bahan mentah untuk menjadi suatu barang yang mempunyai nilai jual untuk mendapatkan suatu keuntungan. Semua aktivitas industri tidak hanya mencakup pembuatan suatu barang, tetapi dapat berupa berbentuk jasa, ada asuransi, perbankan, transportasi, ekspedisi dan lain sebagainya. Apa yang kita sekarang gunakan adalah hasil dari suatu aktivitas perindustrian. Semua dilakukan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup.

Astra Honda Motor

     Tentunya semua aktivitas perindustrian pasti akan menghasilkan suatu limbah. Dalam setiap perindustrian pasti ada yang mengatur dalam pengelolaan limbah. Limbah Industri membutuhkan pengelolaan, karena biasanya limbah industri mengandung senyawa pencemaran yang dapat menciptakan kerusakan terhadap lingkungan.Untuk itu harus ada yang benar benar mengatur limbah industri tersebut.
     Berdasarkan karateristiknya limbah industri dapat dibagi menjadi empat bagian :
1. Limbah Cair : Limbah jenis ini biasanya dikenal sebagai entitas pencemaran air. Komponen pencamaran air pada umumnya terdiri dari bahan buangan padat, bahan buangan organik dan bahan buangan anorganik
2. Limbah Padat : Limbah jenis ini adalah limbah yang sesuai dengan sifat benda padat yang dihasilkan oleh sisa produksi. Limbah jenis ini sering menjadi masalah baru, sebab untuk proses pembuanganya membutuhkan satu pabrik juga.
3. Limbah Gas & Partikel : Limbah gas & partikel adalah limbah yang memanfaatkan udara sebagai media. Komponenya diantaranya gas yang dihasilkan pabrik, asap, partikel dan debu melalui udara yang bercampur dengan udara basah.
4. Limbah B3 : Limbah jenis ini merupakan sisa suatu usaha yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang karena sifat, konsentrasinya dapat mencemarkan, merusak dan dapat membahayakan lingkungan hidup & kelangsungan hidup.

Limbah Industri

BRIKET BATUBARA
     Batubara adalah bahan bakar yang kaya zat karbon. Oleh karena itu batubara dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pokok dalam membuat briket. Briket batubara bisa dijadikan sebagai Bahan Bakar Alternatif Departement Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM). Briket batubara telah digunakan sejak awal tahun 80-an dibeberapa negara, seperti China dan Korea Selatan. Indonesia sendiri mulai mengenal Briket batubara pada tahun 1993. Namun karena waktu itu harga minyak tanah sebagai kompetitor briket batubara masih rendah karena subsisdi, maka gaung briket batubara hanya seumuran jagung. Kini seiring dengan harga minyak tanah yang semakin mahal. Maka ide penggunaan Briket batubara  muncul kembali.
     Namun penggunaan Briket Batubara menyebabkan polusi udara yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia, bahkan di China telah menelan korban jiwa. Hal ini disebabkan oleh fakta yang menunjukan bahwa setiap pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara dapat menimbulkan emisi berupa Gas seperti CO, CO2, NOx, SOx dan lain-lain.

Briket Batubara

PENAMBANGAN BATU KAPUR
     Sumberdaya Kapur adalah sumberdaya yang cukup melimpah dan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar maupun investor. Hal ini dapat dilihat pada kawasan kawasan karst akan dijumpai banyak kegiatan penambangan, baik penambangan dalam skala besar maupun skala kecil. Kegiatan penambangan tersebut akan banyak membantu perekonomian penduduk sekitarnya. Kawasan karst sendiri secara fisik merupakan kawasan yang kering dan sulit untuk ditanami. Oleh karena itu, penambangan kapur menjadi alternatif perekonomian penduduk.
     Karst pada dasarnya merupakan kawsasan yang rentan akan kerusakan lingkungan. Bahkan banyak kita lihat Kawasan karst banyak yang hancur karena aktivitas penambangan yang tidak terkendali dengan baik.  Kerusakan tersebut berawal dari penebangan-penebangan vegatasi penutup untuk mendukung aktivitas penambangan batu kapur yang menyebabkan bukit-bukit karst menjadi gundul. Hal yang disayangkan adalah tidak adanya usaha untuk mereklamasi bukit tersebut setelah aktivitas penambangan selesai.
     Penggundulan yang terjadi di bukit-bukit karst tersebut mengakibatkan tidak mampunya wilayah tersebut menangkap air hujan. Dampaknya wilayah tersebut menjadi semakin kering. Berkurangnya vegetasi juga menyebabkan berkurangnya oksigen di udara sehingga suhu di wilayah tersebut menjadi semakin tinggi. Sedikitnya vegetasi juga menyebabkan tanah menjadi semakin labil. Tidaknya adanya penahan/penyangga berupa pepohonan membuat wilayah tersebut sangat rentan  gerakan massa tanah yang meyebabkan bahaya longsor.
     Selain itu dikawasan karst juga dapat mendatangkan penyakit . Misalnya gangguan pada saluran pernafasan yang diakibatkan oleh asap-asap pabrik penambangan. Seperti sesak nafas, bronchitis, asma, ISPA, dan bahkan radang paru-paru. Selain penyakit/gangguan pada sistem pernapasan. penyakit kencing batu juga menjadi gangguan kesehatan yang sering dijumpai dikawasan karst. Penyakit ini disebabkan oleh air yang dikonsumsi oleh masyarakat mengandung zat kapur dengan kadar yang tinggi. Zat kapur pada air tersebut dapat mengendap pada saluran ekskresi manusia menjadi padatan kecil di dalam tubuh.




Daftar Pustaka :

Raharjo, Samsudi. 2013. Pembuatan Briket Bioarang Dari Limbah Abu Ketel, Jarak, dan Gliserin.
Algunadi, I Gede. Analisis Dampak Penambangan Batu Kapur Terhadap Lingkungan di Kecamatan Nusa Penida. Undiksha
Sumber Jurnal :
http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/jtm/article/view/758
http://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPG/article/view/1226

Sumber Pendukung :
https://primaprims.wordpress.com/2012/12/09/dampak-negatif-penambangan-batu-kapur/
- http://ghozaliq.com/2013/09/13/pengertian-industri-dan-perindustrian/
- https://duniawarnaku.wordpress.com/2012/10/01/pengolahan-limbah/
https://fileq.wordpress.com/2012/10/05/briket-batubara/

Lean Manufacturing

Lean Manufacturing (Tugas 2)

20.30 WIB

CARA PENGURANGAN  WASTE DENGAN SISTEM LEAN MANUFACTURING

LATAR BELAKANG

     Lean manufacturing adalah metode yang digunakan untuk suatu perusahaan untuk mencegah pemborosan sehingga bisa meningkatkan nilai tambah produk untuk konsumen. Metode ini dinilai menambah nilai income bagi mereka yang ingin menambah modal. Pemborosan dihilangkan karena pemborosan hanya menimbulkan kerugian, karena tidak dapat menambah nilai produk yang dihasilkan. Bila perusahaan tidak ingin menanggung biaya yang berlebihan maka harus bisa mencari beberapa hal yang menyebabkan terjadinya pemborosan. Pemborosan yang sering terjadi adalah pemborosan waktu dan tenaga. Dan ada pula pemborosan yang diakibatkan oleh penggunaan peralatan yang dirasa tidak perlu digunakan pada saat proses produksi.

STUDI KASUS

      Unit Produksi Bandung merupakan produk yang memiliki permintaan dalam jumlah besar, tetapi sering menghadapi masalah keterlambatan dalam penyelesaian produk yang disebabkan oleh adanya pemborosan (waste) pada lantai produksi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan strategi perbaikan dengan menggunakan metode Lean Manufacturing untuk mengurangi waste pada lantai produksi dengan mengurangi pemborosan serta aktivitas yang tidak memiliki nilai tambah. Setelah dilakukan identifikasi waste yang terjadi dengan menggunakan metode 5W-1H (What, Who, Where, When, Why, and How) dapat diketahui adanya pemborosan pada proses proses cutting 2 di mesin pond dan mesin bending, pemborosan gerakan kerja yang disebabkan oleh organisasi tempat kerja yang kurang baik dan metode kerja yang tidak konsisten, serta pemborosan overproduksi yang terjadi pada proses pemotongan bahan baku pada mesin hydracut dan pemotongan sudut-sudut komponen pada mesin pond. Dengan melakukan implementasi usulan tindakan perbaikan tersebut, diharapkan dapat mengeliminasi waste yang terjadi sehingga dapat mengurangi lead time produksi perusahaan menjadi 4331.2 menit (±10 hari).

KESIMPULAN

     1. Pemborosan pada proses terjadi disebabkan oleh faktor pekerja yang membuang buang waktu.
     2. Pemborosan juga terjadi karena proses yang dilakukan diulang lebih dari 1 proses.
     3. Pemborosan pada proses perakitan disebabkan oleh metode yang dilakukan tidak efektif.
     4. Pemborosan overproduksi karena sisa bahan baku yang dipotong menumpuk dimesin bending.

PELUANG PENELITIAN SELANJUTNYA

     1. Mengkombinasikan metode lean manufacturing dengan metode lainya seperti six sigma.
     2. Melakukan kajian finansial pada beberapa aspek yang akan dilakukan perbaikan.
     3. Melakukan penelitian dengan metode lean manufacturing pada produk yang lain.

Penuilis : Ambar Rukmi Harsono, Sugih Arijanto, Fuady Azlin
Proceeding Seminar Nasional IV Manajemen & Rekayasa Kualitas 2010
http://lib.itenas.ac.id/kti/wp-content/uploads/2014/04/Usulan-perbaikan-Untuk-Pengurangan-Waste-Pada-Proses-Produksi-dengan-Metoda-Lean-Manufacturing-di-PT.-PLN-Bandung_noPW.pdf